Kakek yang murah senyum itu telah meninggalkan kita. Dengan meninggalkan sejuta kenangan. Ada hujatan yang seolah yang seolah dia manusia terlaknat di dunia, ada juga simpati dan merasa kehilangan sehingga harus meneteskan air mata. Semua karena jabatan yang pernah di embanya. Apa yang pernah di lakukan sehingga begitu beragam kesan yang tertinggal di hati rakyat indonesia. Di mataku mbah harto adalah presiden yang paling bisa menjaga stabilitas politik, yang kemudian di ikuti stabilitas ekonomi. Meski pilar dasar penyangga ekonomi begitu rapuh dan akhirnya keropos di akhir pemerintahanya. 4 presiden penggantinya terbukti tak mampu menyamai prestasinya di bidang stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi. Stabilitas adalah kunci keberhasilanya sehingga bisa berkuasa selama 32 tahun. Hal itu pulalah yang menumbuh suburkan praktek kkn di negri ini.Indonesia saat ini miskin figur seperti sosok suharto. SBY yang berlatarbelakang militer punya watak dan kemampuan seperti suharto. Hanya dia tak punya kesempatan untuk itu. Dia di pilih melalui proses paling demokratis di negri ini, bagaimana mungkin dia akan melanggar rambu2 demokrasi. Untuk menciptakan stabilitas perlu keberanian pengambilan keputusan dan bertindak otoriter. Itu jelas mengesampingkan prinsip2 demokrasi. Pemenang demokrasi adalah suara terbanyak, dalam sistim multi partai, hampir mustahil ada mayoritas tunggal apa lagi tanpa rekayasa. Jika 1 partai menjadi pemenang akan banyak partai yang akan masuk barisan sakit hati. Apalagi di era reformasi semua orang bebas menyampaikan pendapat. Tak peduli apakah itu fitnah atau hasutan tergantung bagaimana trik mengemas dalam berpropaganda.Bisakah demokrasi di indonesia menciptakan stabilitas?. Apalagi kebodohan dan kemaksiyatan masih merajalela di negri ini. Seorang penjahat tak mungkin memilih santri menjadi pemimpin. Jika sekarang eksekutif dan legeslatif korup karena pemilihnya jual suara. Ingat pemenang demokrasi adalah suara terbanyak. Jadi muak aku dengan demokrasi, aku labih suka pemimpin otoriter yang paling terakhir makan setelah rakyatnya kenyang.