Dalam acara infotainment yang di tayangkan tv swasta, ari wibowo, celebriti kondang membagi pengalaman spiritualnya.Sebelum mencapai kesuksesannya seperti sekarang, dia berangan bisa menikmati fasilitas dari limpahan materi yang sekarang di dapatkannya. Namun setelah dia mendapatkannya semua itu terasa hambar. “koq cuma begini ya, rasanya.”begitulah kira-kira ucapannya. Ternyata kesuksesan ,materi ,dan fasilitas ,tidak memberinya ketentraman. Kemudian dia mencoba mencari ketentraman itu di gemerlapnya kehidupan malam. Dia mulai akrab dengan alkohol dan dan hingar bingar pesta dugem. Yang dia dapatkan justru kejenuhan dan kerusakan jasmani. Saat ini dia sedang mencari ketentraman di gereja dengan menyibukkan diri dalam melayani Tuhan (begitu dia menyebutnya). Lepas dari apa keyakinannya aku mencoba introspeksi dan membanding-bandingkan dengan apa yang bisa aku capai (caile, sesukses apa sih, seorang buruh pabrik). Dalam pikiranku angan-angan itu lebih indah dari kenyataan. Dalam angan-angan yang ada hanyalah yang indah-indah. Seorang pengkhayal dia tidak pernah berpikir resiko dari sesuatu yang yang dikhayalkan. Jika dia berkhayal ingin punya motor, dia berpikir bisa pergi kemana dia suka, bisa di pamerkan ke teman2nya agar tidak di hina. Bahkan dengan motornya dia bisa berbuat kebajikan dengan bersilaturohim misalnya. Dia tidak pernah berpikir membumbungnya harga bensin, mahalnya servis dan harga onderdil. Belum lagi jika terjadi kecelakaan atau motor di curi orang. Itulah resiko yang bisa menguras isi kantong dan memusingkan isi kepala pemilik motor. Apalagi sekelas buruh pabrik seperti aku. Aku tidak menganjurkan untuk terus berkhayal, dan melarang untuk merealisasikan. Aku hanya ingin katakan dunia hanya menjanjikan keindahan semu. Keindahannya penuh keterbatasan dan jauh dari keabadian. Sungguh tertipulah orang yang bergantung pada dunia dan mengharap ketentraman darinya. Benarlah nasehat Rosululloh untuk memegang dunia dengan tangan bukan dengan hati. Karena memegangnya dengan tangan dia akan menjadi alat dan sarana kita untuk mencapai ketentraman abadi. Namun jika kita memegangnya dengan hati kita yang akan di peralatnya untuk menikmati ketentraman semu.